28 C
Riau Islands
Senin 31 Agustus 2026

Ujian Rp 70 Triliun Amsakar-Li Claudia

spot_img

Keprikini.com – Deru mesin kapal kargo membelah perairan Selat Malaka. Di pesisir Batam, deretan pabrik, pusat logistik, pusat digitalisasi terus berdenyut siang dan malam. Di balik lanskap industri yang sibuk itu, sebuah pertaruhan besar sedang berjalan di meja kerja Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra.

Kepala dan Wakil Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam ini memikul beban yang tidak ringan. Mereka harus mendatangkan investasi senilai Rp 70 triliun sebelum lembar kalender 2026 berakhir.

Para pemodal asing terus melirik pulau seluas 715 kilometer persegi ini. Singapura, Korea Selatan, Tiongkok, Hong Kong, hingga Malaysia secara berurutan mencatatkan nama sebagai penanam modal terbesar. Pun uang segar lintas negara terus mengalir ke pulau industri ini.

Tengah tahun pertama 2026 baru saja terlewati. Kalkulator internal BP Batam sudah mencatat angka Rp 38,97 triliun investasi telah masuk. Angka yang setara 55,67 persen dari target tahunan yang dipatok di 2026.

Secara pencatatan formal nasional, realisasi penanaman modal menyentuh Rp 29,89 triliun. Mayoritas perputaran uang itu ditopang modal asing sebesar Rp 17,80 triliun. Sisanya berasal dari kantong pemodal dalam negeri.

Namun, deretan angka triliunan itu bukan sekadar catatan di atas kertas. Tantangan terbesar Amsakar dan Li Claudia justru berada di ruang-ruang pelayanan. Mereka harus mengurai birokrasi.

Selama ini, kepastian regulasi kerap menjadi tembok tebal bagi para pengusaha. Amsakar menyadari hambatan tersebut. Ia kini mendorong sebuah jalan pintas lewat sistem pengatur tunggal (single-window regulator) di kawasan perdagangan bebas ini.

“Kami ingin memastikan investor mendapatkan kepastian dalam berusaha,” ujar Amsakar, Senin (31/8/2026).

Ia berjanji membenahi aturan main dan meningkatkan kualitas layanan. Tujuannya hanya satu, para pemodal merasa aman membangun pabrik dan mengembangkan bisnis di Batam.

Fokus Amsakar juga mulai meluas. Ia tidak lagi sekadar mengincar pabrik manufaktur padat karya. BP Batam kini melebarkan jala investasi ke sektor logistik internasional, serta industri digital dan kreatif.

Investasi Harus Berdampak ke Kantong Warga Lokal 

Di sisi lain, Li Claudia Chandra melihat tumpukan uang asing itu harus menetes ke kantong warga lokal. Ia menuntut arus investasi membawa dampak nyata bagi lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi akar rumput.

“Membangun Batam tidak bisa dilakukan hanya oleh pemerintah,” tegas Li Claudia. Ia meminta pengusaha, pemerintah, dan masyarakat berkolaborasi membuka ruang ekonomi yang baru.

Waktu terus berjalan menuju akhir tahun. Janji menggelar karpet merah tanpa birokrasi berbelit dari duet Amsakar-Li Claudia kini menanti pembuktian. Publik dan investor menunggu wujud nyata transformasi itu, bukan sekadar pelengkap rilis berita. (kk1)

Terkini

Kepri

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini