Keprikini.com – Upaya meningkatkan kunjungan wisatawan ke Tanjungpinang dan Bintan tidak cukup hanya dengan menambah konektivitas penerbangan namun perlu diskresi dan upaya kolaboratif.
Saat ini publik melihat aktivitas orang melalui akses pintu masuk Bandara Raja Haji Fisabilillah (RHF) dinilai dari data statistik terus menurun, hingga menjadikan Tanjungpinang sebagai ibukota transit.
Hal itu menjadi salah satu pokok pembahasan dalam Focus Group Discussion (FGD) Penguatan Pasar Wisatawan Domestik dan Internasional melalui Bandara RHF, Rabu (30/9/2026).
General Manager KC Bandara Raja Haji Fisabilillah, Muhammad Setiadi Dermawan Wakan, menjaring berbagai masukan yang muncul dalam forum tersebut, hingga perlu langkah yang lebih konkret untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Ia menyoroti kondisi daya beli masyarakat dan pendapatan asli daerah (PAD) Tanjungpinang yang dinilai membutuhkan perhatian melalui intervensi dan pemerataan ekonomi yang lebih masif.
“Terima kasih atas saran, masukan dan kritik yang membangun dari para stakeholder maupun senior-senior yang hadir. Ini menjadi bahan bagi kami untuk melihat apa yang harus dilakukan ke depan,” ujar Setiadi.
Menurutnya, potensi Tanjungpinang dan Bintan perlu dioptimalkan melalui kerja bersama karena pengembangan ekonomi daerah tidak cukup hanya mengandalkan satu sektor atau industri besar.
Dalam konteks pariwisata, Setiadi menegaskan posisi Bandara RHF sebagai pintu gerbang utama menuju Tanjungpinang dan Bintan. Karena itu, penguatan konektivitas perlu berjalan beriringan dengan kesiapan destinasi dan strategi mendatangkan wisatawan.
“Kami siap menjadi akselerator perubahan. Yang penting adalah bagaimana kita berkolaborasi dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Dari sisi industri perjalanan, Owner dan Managing Director PT Mahanta Karya Wisata (Emak Tours), Safril Sembiring, menilai potensi wisata Tanjungpinang dan Bintan masih membutuhkan promosi yang lebih agresif.
Menurutnya, destinasi yang tersedia harus dikemas menjadi produk wisata yang mudah dipasarkan melalui biro perjalanan, jaringan korporasi maupun platform digital.
“Media dan media sosial menjadi harapan kita bersama untuk menguatkan informasi dan promosi tentang Bintan,” ujar Safril.
Ia menilai promosi tidak cukup hanya memperkenalkan destinasi. Informasi mengenai kegiatan, pengalaman wisata, kuliner dan berbagai atraksi lokal perlu dikemas secara berkelanjutan sehingga calon wisatawan memiliki alasan untuk memilih Tanjungpinang dan Bintan sebagai tujuan perjalanan.
Di kesempatan yang sama, Ketua PWI Tanjungpinang Suhardi, turut menyarankan agar media dapat mengambil bagian dalam membangun ekosistem promosi tersebut. Menurutnya, pemberitaan pariwisata perlu dilakukan secara konsisten dan tidak hanya muncul ketika sebuah kegiatan digelar.
“Media tidak hanya memberitakan ketika ada event, melainkan harus konsisten. Dulu ada Festival Bahari Kepri dampak kunjungan positif, orang datang dari mana-mana. Saat ini kita hanya bisa melihat jumlah kunjungan wisman terus merosot tajam,” kata Suhardi.
Ia juga mendorong agar pemerintah menjaga konsisten, apa destinasi yang sudah berkembang. Dulu lanjutnya, ada Festival Dragon Boat yang dampaknya sangat luar biasa terhadap semua sektor.
“Perlu evaluasi dan duduk bareng seperti ini ,” sarannya.
Sementara itu, Lurah Pinang Kencana, Al Imron, juga merasakan rendahnya kunjungan wisata. Ia menekankan pentingnya memperpanjang lama tinggal wisatawan.
Imron juga menganggap pentingnya promosi calendar of event secara terencana sejak awal tahun.
“Harus ada calendar of event yang diatur dari awal tahun, dengan begitu, pelaku usaha bisa menjual paket wisata lebih awal,” ujarnya.
Perwakilan Bintan Resorts Cakrawala (BRC), Rian, turut menyoroti pentingnya agenda wisata yang terencana sebagai bagian dari strategi pemasaran kawasan. Kalender kegiatan yang jelas dinilai dapat membantu pelaku industri menyusun paket dan menawarkan pengalaman wisata kepada calon pengunjung.
FGD tersebut mempertemukan berbagai unsur, mulai dari pengelola bandara, pemerintah daerah, biro perjalanan, perhotelan, kawasan wisata, maskapai, asosiasi pariwisata, pelaku kuliner hingga media.
Dari pertemuan tersebut, Bandara RHF menyiapkan sejumlah langkah tindak lanjut, antara lain membentuk grup komunikasi lintas pemangku kepentingan, menggelar pertemuan lanjutan secara formal, serta menyusun sasaran bersama dan langkah strategis sesuai tugas dan fungsi masing-masing.
Dengan demikian, pembahasan FGD diarahkan tidak berhenti pada persoalan penerbangan, tetapi bagaimana konektivitas Bandara RHF dapat terhubung dengan promosi, produk wisata dan aktivitas ekonomi sehingga memberikan dampak lebih luas bagi Tanjungpinang dan Bintan.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut, akademisi Endri Sanopaka, perwakilan maskapai, pelaku usaha perhotelan Tanjungpinang-Bintan. Seluruh peserta mendorong agar pemerintah dan pihak Bandara berupaya melakukan peningkatan kunjungan wisatawan.

